Kamis, 17 Oktober 2013

Inilah Jurus Handal Menebas Malas (part 2)





1. Orang Penting
Benarkah hanya presiden, menteri, duta besar, insinyur, profesor, dosen, kepsek, dokter, pilot, dan profesi besar lainnya saja yang disebut sebagai orang penting? Cleaning service, office boy, pembantu rumah tangga, tukang sampah, pemulung, apakah mereka bukan orang penting? Bagaimana dengan diri kita yang belum punya profesi semacam itu?
Bagi orang cerdas, penting atau tidak pentingnya seseorang bukanlah ditilik dari tingkatan profesi semata. Sangat sempit cara berpikir yang hanya melihat seseorang dari sisi ini saja.
Lhah, apa sih hubungannya hal ini dengan mengusir rasa malas? Begini ceritanya.
Sadarilah, bahwa dirimu pun sesungguhnya adalah orang penting! Bagaimana tidak? Dahulu kala Allah memerintahkan kepada malaikat dan syaitan untuk tunduk bersimpuh sujud di hadapan manusia yakni Nabi Adam. Kita ini adalah keturunan Nabi Adam bukan? Kita dimuliakan oleh pencipta kita.
Dahulu kala juga Allah pernah mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di muka bumi. Siapa yang dimaksud? Ya kita ini. Manusia. Ternyata ya, kita dicipta di dunia untuk menjadi khalifah fil ardh. Keren nggak tuh?! Lantas apakah khalifah bukan orang penting?
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat “sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di muka bumi..” (QS. Al-Baqarah [2]:30).
Dari ayat tersebut terlihat bahwa manusia diberi kekuasaan untuk mengolah dan memakmurkan alam ini –dalam rangka beribadah kepada Allah—sehingga akan membedakannya dengan mahluk lain dalam kedudukan dan tanggung jawab. Konsekuensi dari kedudukan dan tanggung jawab tersebut , manusia akan diminta pertanggungjawaban atas segala amal yang dilakukannya dimuka bumi ini sebagai khalifah fil-ardh.
Dari Ibnu Umar RA. Berkata dari nabi SAW sabdanya : “ketahuilah ! Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya..” (HR. Muttafaq Alaih).
Memimpin itu butuh ilmu, butuh kreatifitas, butuh bergerak, butuh keberanian. Nah, kalau kita meleburkan diri dalam lautan malas, bakal jadi pemimpin yang gimana tuh yak? Ilmu nggak punya, kratifitas minim, ongkang-ongkang melulu, pengecut. Wah, kebayang deh gimana menyebalkannya sosok pemimpin yang demikian. Mau jadi yang seperti ini? Oh, tentu tidak!
Padahal tuh, pada masanya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas ini. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik, yang adil, yang amanah? Minimal dalam memimpin diri sendiri. Lebih-lebih dalam memimpin orang lain, misal dalam organisasi, keluarga, atau lingkungan kita dengan segala sumber daya alamnya yang melimpah ruah.
Selain itu, kita juga diciptakan untuk menjadi abdi. Abdi bagi siapa? Bagi yang menciptakan kita, Sobat. Apakah sebagai abdi juga menjadi indikasi bahwa kita masih tetap orang penting?
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Yang namanya abdi Allah berarti kita harus menjadikan seluruh hidup kita hanya untuk ibadah. Makan, minum, mandi, tidur, membaca buku, menulis, olahraga, tersenyum, menangis, belajar, bekerja, mencuci, dan aktivitas keseharian kita lainnya adalah ibadah sebagaimana sholat, puasa, zakat, dsb. Nah, kalau malas-malasan termasuk ibadah bukan yak? Jelas deh jawabannya. Lalu, apa hubungannya ibadah dengan orang penting? Dengan semangat ibadah pastinya kita akan disayang olehNya dong ya? Penting nggak tuh?? Wow, Penting Banget!! So, enggak ada orang penting yang pemalas bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar