Benarkah
hanya presiden, menteri, duta besar, insinyur, profesor, dosen, kepsek, dokter,
pilot, dan profesi besar lainnya saja yang disebut sebagai orang penting?
Cleaning service, office boy, pembantu rumah tangga, tukang sampah, pemulung,
apakah mereka bukan orang penting? Bagaimana dengan diri kita yang belum punya
profesi semacam itu?
Bagi
orang cerdas, penting atau tidak pentingnya seseorang bukanlah ditilik dari
tingkatan profesi semata. Sangat sempit cara berpikir yang hanya melihat
seseorang dari sisi ini saja.
Lhah, apa
sih hubungannya hal ini dengan mengusir rasa malas? Begini ceritanya.
Sadarilah,
bahwa dirimu pun sesungguhnya adalah orang penting! Bagaimana tidak? Dahulu
kala Allah memerintahkan kepada malaikat dan syaitan untuk tunduk bersimpuh
sujud di hadapan manusia yakni Nabi Adam. Kita ini adalah keturunan Nabi Adam
bukan? Kita dimuliakan oleh pencipta kita.
Dahulu
kala juga Allah pernah mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan
menciptakan khalifah di muka bumi. Siapa yang dimaksud? Ya kita ini. Manusia.
Ternyata ya, kita dicipta di dunia untuk menjadi khalifah fil ardh. Keren
nggak tuh?! Lantas apakah khalifah bukan orang penting?
“Dan
(ingatlah) tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat “sesungguhnya Aku akan
menjadikan seorang Khalifah di muka bumi..” (QS.
Al-Baqarah [2]:30).
Dari ayat
tersebut terlihat bahwa manusia diberi kekuasaan untuk mengolah dan memakmurkan
alam ini –dalam rangka beribadah kepada Allah—sehingga akan membedakannya
dengan mahluk lain dalam kedudukan dan tanggung jawab. Konsekuensi dari
kedudukan dan tanggung jawab tersebut , manusia akan diminta pertanggungjawaban
atas segala amal yang dilakukannya dimuka bumi ini sebagai khalifah
fil-ardh.
Dari Ibnu
Umar RA. Berkata dari nabi SAW sabdanya : “ketahuilah ! Tiap-tiap kamu adalah
pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang
dipimpinnya..” (HR. Muttafaq Alaih).
Memimpin
itu butuh ilmu, butuh kreatifitas, butuh bergerak, butuh keberanian. Nah, kalau
kita meleburkan diri dalam lautan malas, bakal jadi pemimpin yang gimana tuh
yak? Ilmu nggak punya, kratifitas minim, ongkang-ongkang melulu, pengecut. Wah,
kebayang deh gimana menyebalkannya sosok pemimpin yang demikian. Mau jadi yang
seperti ini? Oh, tentu tidak!
Padahal
tuh, pada masanya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas ini.
Sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik, yang adil, yang amanah? Minimal dalam
memimpin diri sendiri. Lebih-lebih dalam memimpin orang lain, misal dalam
organisasi, keluarga, atau lingkungan kita dengan segala sumber daya alamnya
yang melimpah ruah.
Selain
itu, kita juga diciptakan untuk menjadi abdi. Abdi bagi siapa? Bagi yang
menciptakan kita, Sobat. Apakah sebagai abdi juga menjadi indikasi bahwa kita
masih tetap orang penting?
“Dan
tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah
kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Yang
namanya abdi Allah berarti kita harus menjadikan seluruh hidup kita hanya untuk
ibadah. Makan, minum, mandi, tidur, membaca buku, menulis, olahraga, tersenyum,
menangis, belajar, bekerja, mencuci, dan aktivitas keseharian kita lainnya
adalah ibadah sebagaimana sholat, puasa, zakat, dsb. Nah, kalau malas-malasan
termasuk ibadah bukan yak? Jelas deh jawabannya. Lalu, apa hubungannya ibadah
dengan orang penting? Dengan semangat ibadah pastinya kita akan disayang
olehNya dong ya? Penting nggak tuh?? Wow, Penting Banget!! So, enggak ada orang
penting yang pemalas bukan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar