Rabu, 03 Desember 2014




Feel on fire dan Vaksin polio
(08.45 am, 11/11/12) 
Karena lagi uring-uringan tingkat akut, maka saya memutuskan untuk segera sholat duha dan ingin membaca hal-hal yang bisa bikin adem. Pada kenyataannya saya juga sudah beli teh kemasan yang dingin untuk bikin adem, tapi si teh cuma numpang lewat dan menguap begitu saja di tenggorokan yang lagi on fire.
Kubuka netbook, saya mau ngenet… Pasang modem, connecting, loading, waiting, leleting*, boring . Ingin finishing, tapi terlalu fasting. Akhirnya kubuka folder My Document, ada beberapa halaman web yang kusimpan, kubuka salah satu yang judulnya menarik tapi aku sudah lupa isinya. Judulnya Biofarma Hanya Vaksin Polio yang Bersinggungan dengan Bahan Babi.htm. Terbukalah ia, saya baca dengan hati penasaran. Ok, I see. Isinya sama seperti materi kuliah yang pernah disampaikan dosenku di matakuliah Bioteknologi, tentang penggunaan enzim untuk menghasilkan suatu zat yang dibutuhkan dalam jumlah banyak. Dari teori yang saya terima, enzim memang tidak berikatan sampai akhir pada produk akhir. Enzim hanya membantu mereaksikan agar prosesnya cepat. Jadi, dalam proses pembuatan vaksin polio memang digunakan enzim tripsin dari babi (kenapa pake’ babi saya juga nggak tau..) yang kemudian pada produk akhirnya si enzim akan dihilangkan. Maka bebaslah vaksin dari kandungan enzim babi, yang menjadi salah satu alasan MUI memberikan fatwa halal pada vaksin ini dan beberapa vaksin lainnya. Masalah seseorang mau atau tidak memberikan vaksin kepada anaknya itu kembali ke masing2 orang tua.
Kalau saya ditanya mau atau tidak memberikannya buat anak saya, saya akan berikan. Alasan pertama karena mengetahui teori pembuatan vaksin tersebut, kedua karena MUI sebagai wakil pemerintah dan bukankah kita wajib menaati pemerintah kecuali jika mereka zholim?, ketiga karena saya belum bisa menemukan pengganti yang kekuatannya sama seperti vaksin. Tetapi mungkin ada yang akan bilang, Ah bapak ibuku dulu nggak divaksin toh nggak apa2 sampai sekarang!. Yah, that right! Andai saya bisa memastikan 100% anak saya tidak akan apa2 pasti saya tidak akan memberikannya vaksin. Bukan tidak mungkin orang zaman dulu fisiknya memang lebih kebal terhadap serangan mikroba karena apa yang mereka makan masih banyak yang bebas pestisida, lauk pauk segar bebas formalin, tanah subur bebas penyubur kimia anorganik, sayur dan buah ranum ala pupuk kandang, perlindungan ozon yang baik, mikroba yang masih bersahabat dan gaya hidup yang aktif bergerak. Sekarang? You know it so well… 
Omong-omong, gimana kalau kita tinggal di hutan aja yang bebas zat anorganik berbahaya?
Ps:
Sampai tulisan ini selesai ditulis modemnya masih leleting, makin on fire… apa saya ceraikan saja provider ini? Rasanya udah nggak sanggup setia mencintainya 10 atau 50 tahun lagi… Seperti bang Rapi dan dan mbak Yuli.
* Berasal dari kata lelet” yang ditambah ing, berarti sedang lelet

sahabat saya ini yang jago nulis, keren kan??
namax Siti Syahrana (saya masih harus bnyak belajar nulis sama dia)

hehehe... ini tulisan pertama aq di akhir tahun 2014

Jumat, 18 Oktober 2013

Inilah Jurus Handal Menebas Malas (part 3)




2. Mimpi Besar
Ingatlah, sahabat bahwa kita punya mimpi. Kita punya cita-cita. Kita punya harapan. Kita punya target. Kita ada bukan sekedar untuk menghabiskan nafas yang sudah dijatah masanya. Bukan sekedar melangkah tanpa arah, tanpa pegangan, tanpa tujuan. Kita terlahir untuk menjadi pemenang yang punya tujuan besar dan saat ini sedang kita perjuangkan. Kita bukan pengangguran yang waktu-waktunya habis untuk bersantai-santai dalam kemalasan.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr [59]:18-19)
Apa mimpimu, Sahabat? Pasti ada jawabannya kan? Lupa ya? Supaya enggak lupa, tulislah semua mimpi kita di atas kertas. Ya, mimpi besar! Mimpi yang bahkan tampak tidak mungkin terwujud di mata orang lain. Mimpi yang akan bernilai ibadah di hadapanNYA. Mimpi yang tidak semata bernilai duniawi, tapi  jauh melesat ke alam ukhrawi. Tak masalah apa kata mereka. Tulis sebanyak-banyaknya mimpi yang ingin kita gapai! Lalu perjuangkan satu per satu untuk meraihnya! Semuanya sangat mungkin untuk terwujud nyata. Insya Allah.
Jika hidup kita sudah jelas ke mana arah tujuannya maka optimisme, ikhtiar sempurna,  dan tawakkal harus menyatu dalam jiwa kita. Kalau ada malas yang hinggap, segera tebas dengan bayangan mimpi besar yang akan segera terwujud. Jangan sampai lenyap dilebur bisikan setan berupa godaan untuk menuruti rasa malas dan enggan. Jika tidak, maka bersiaplah untuk kalah sebelum bertanding, atau rugi selamanya. Dan setan pun akan terbahak-bahak mentertawakan kita. Akhirnya mimpi besar itu tinggalah sebagai tulisan yang tergeletak tanpa makna, tanpa suara, tanpa wujud nyata. Sayang sekali! Hanya disebabkan oleh m.a.l.a.s !!

Kamis, 17 Oktober 2013

Inilah Jurus Handal Menebas Malas (part 2)





1. Orang Penting
Benarkah hanya presiden, menteri, duta besar, insinyur, profesor, dosen, kepsek, dokter, pilot, dan profesi besar lainnya saja yang disebut sebagai orang penting? Cleaning service, office boy, pembantu rumah tangga, tukang sampah, pemulung, apakah mereka bukan orang penting? Bagaimana dengan diri kita yang belum punya profesi semacam itu?
Bagi orang cerdas, penting atau tidak pentingnya seseorang bukanlah ditilik dari tingkatan profesi semata. Sangat sempit cara berpikir yang hanya melihat seseorang dari sisi ini saja.
Lhah, apa sih hubungannya hal ini dengan mengusir rasa malas? Begini ceritanya.
Sadarilah, bahwa dirimu pun sesungguhnya adalah orang penting! Bagaimana tidak? Dahulu kala Allah memerintahkan kepada malaikat dan syaitan untuk tunduk bersimpuh sujud di hadapan manusia yakni Nabi Adam. Kita ini adalah keturunan Nabi Adam bukan? Kita dimuliakan oleh pencipta kita.
Dahulu kala juga Allah pernah mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di muka bumi. Siapa yang dimaksud? Ya kita ini. Manusia. Ternyata ya, kita dicipta di dunia untuk menjadi khalifah fil ardh. Keren nggak tuh?! Lantas apakah khalifah bukan orang penting?
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat “sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di muka bumi..” (QS. Al-Baqarah [2]:30).
Dari ayat tersebut terlihat bahwa manusia diberi kekuasaan untuk mengolah dan memakmurkan alam ini –dalam rangka beribadah kepada Allah—sehingga akan membedakannya dengan mahluk lain dalam kedudukan dan tanggung jawab. Konsekuensi dari kedudukan dan tanggung jawab tersebut , manusia akan diminta pertanggungjawaban atas segala amal yang dilakukannya dimuka bumi ini sebagai khalifah fil-ardh.
Dari Ibnu Umar RA. Berkata dari nabi SAW sabdanya : “ketahuilah ! Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya..” (HR. Muttafaq Alaih).
Memimpin itu butuh ilmu, butuh kreatifitas, butuh bergerak, butuh keberanian. Nah, kalau kita meleburkan diri dalam lautan malas, bakal jadi pemimpin yang gimana tuh yak? Ilmu nggak punya, kratifitas minim, ongkang-ongkang melulu, pengecut. Wah, kebayang deh gimana menyebalkannya sosok pemimpin yang demikian. Mau jadi yang seperti ini? Oh, tentu tidak!
Padahal tuh, pada masanya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas ini. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik, yang adil, yang amanah? Minimal dalam memimpin diri sendiri. Lebih-lebih dalam memimpin orang lain, misal dalam organisasi, keluarga, atau lingkungan kita dengan segala sumber daya alamnya yang melimpah ruah.
Selain itu, kita juga diciptakan untuk menjadi abdi. Abdi bagi siapa? Bagi yang menciptakan kita, Sobat. Apakah sebagai abdi juga menjadi indikasi bahwa kita masih tetap orang penting?
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Yang namanya abdi Allah berarti kita harus menjadikan seluruh hidup kita hanya untuk ibadah. Makan, minum, mandi, tidur, membaca buku, menulis, olahraga, tersenyum, menangis, belajar, bekerja, mencuci, dan aktivitas keseharian kita lainnya adalah ibadah sebagaimana sholat, puasa, zakat, dsb. Nah, kalau malas-malasan termasuk ibadah bukan yak? Jelas deh jawabannya. Lalu, apa hubungannya ibadah dengan orang penting? Dengan semangat ibadah pastinya kita akan disayang olehNya dong ya? Penting nggak tuh?? Wow, Penting Banget!! So, enggak ada orang penting yang pemalas bukan?

Inilah Jurus Handal Menebas Malas (part 1)




Inilah Jurus Handal Menebas Malas

Sosok yang dinamis, aktif, produktif, tangguh, semangat, ceria, tangkas, gesit, gagah, bersih, kuat, sepertinya pas banget ya buat ngegambarin karakter pribadi seorang muslim. Kebalikannya adalah stagnan, malas, cemberut, pasif, lemot, letoy, kucel,  lemah. Duuh, sayang banget kayaknya kalau karakter yang kedua ini malah lebih dominan ada dalam diri kita.
Dunia kita adalah dunia penuh karya. Kalau lebih sering tersia-siakan dengan membiarkan sifat negatif terus-menerus menggerogoti produktifitas kita, alamat bakal terbenam dalam keterpurukan.
Memang sih, setiap kita dilahirkan pasti memiliki kekurangan di balik kelebihan yang berharga luar biasa. Tapi bukan berarti kita malah asyik bercengkerama dengan kekurangan diri yang semestinya diminimalisir kan? Bahkan saking asyiknya, sampai-sampai lupa dengan potensi kelebihan yang Allah anugerahkan kepada kita.
Enggak sedikit lho -yang sampai saat ini- seseorang bahkan belum menemukan apa potensi diri yang ia miliki. Padahal potensi itu pasti ada. Potensi yang sungguh sangat luar biasa berharganya. Lihat saja betapa banyak kaum yang menjerumuskan diri dalam kubangan narkoba, tawuran, dugem, rokok, hura-hura. Ya, itu saja yang setiap hari memenuhi kehidupan mereka. Sebab mereka sudah kecanduan dengan hal-hal yang demikian sehingga tidak mudah untuk ditinggalkan.
Awal dari keterpurukan tersebut bisa jadi bahkan sangat mungkin disebabkan oleh kemalasan yang diam-diam membujuk dan menguasai diri. Malas memulai, malas bangkit, malas bergerak, malas berusaha, malas berkorban, malas bertindak, malas ibadah, malas makan, malas minum, malas bersih-bersih, malas mandi, malas baca, malas nulis, malas belajar, malas mengendalikan hawa nafsu, malas senyum, malas olahraga, dan malas-malas yang lainnya. Banyak banget ternyata yah?
Tidak dipungkiri bahwa setiap kita mungkin pernah merasakan yang demikian. Berarti hal yang wajar dong? Ya memang wajar jika di suatu waktu kita dihinggapi oleh rasa malas, namun tidak larut di dalamnya dong. Yang enggak wajar tuh kalau terus menerus bermalas-malasan. Pemalas namanya. Rugi.
Nah, Sahabat. Yuk, kita cari tau tentang bagaimana caranya menebas rasa malas agar kita tidak terpuruk! Simak ya yang berikut ini. (part 1)

Kabar Hot dari tetangga sebelah




JUDULNYA APA YAH?
Ketika Negara Absen, Tukang Pos Datang Memberi Kejutan (Sebuah Catatan Untuk Indra Sjafri) Oleh: Eddward Samadyo Kennedy,Senin, 14/10/2013 15:50 "Saya tidak mau bernegosiasi dengan negara" -- Indra Sjafri -- * * * Indonesia sebagai negara adalah sebuah omong kosong yang tiada habisnya. Berbagai masalah sudah berserakan di semua lini dan nyaris musykil diperbaiki. Anda bisa lihat: korupsi pengadaan kitab suci, impor kedelai yang gila-gilaan, elit partai berlabel agama yang gemar menjajal vagina, hingga ketua lembaga yang seharusnya berperan sebagai martir tertangkap tangan menerima uang suap. Sebegitu menjijikannya kerusakan di negara ini sampai-sampai akal sehat manusia yang paling tidak waras pun merasa terhina. Memelesetkan sedikit kata-kata Adrian Veidt dalam Watchmen, grafik novel karya Alan Moore: “It doesn't take a genius to see that the world (Indonesia—red) has problems.” Yang absurd adalah, banyak orang masih percaya negara ini dapat menyembuhkan boroknya. Wajar saja, setiap hari televisi selalu menjual mimpi-mimpi manis melalui moralis-moralis pengutip ayat atau produser-produser reality show. Penonton diajak percaya bahwa negara ini baik-baik saja karena selalu ada orang-orang yang berjoget riang di depan layar kaca. Selain itu, jika Anda sempat berkunjung ke toko buku, lihatlah buku jenis apa yang paling banyak diburu pembeli. Ya, buku motivasi. Ketika motivasi dan tawa haha-hihi tak jelas maknanya adalah barang dagangan yang paling laris, apa fungsi logika sebenarnya? Pun demikian, dengan berbagai suntikan optimisme dosis tinggi seperti itu, apa yang berubah di negara ini? Tak ada. Setiap hari media selalu membawa kebusukan. Setiap hari selalu ada orang kaya yang menghamburkan uangnya untuk membeli tas seharga 15 juta rupiah dan orang miskin yang mengais tempat sampah untuk mengisi perutnya yang sudah dua hari kosong. Menurut hemat saya, dengan segala kekacauan yang ada, bukan sebuah keanehan, sebenarnya, jika suatu saat nanti puncak kemuakan orang-orang di negara ini dimulai oleh puluhan anak sekolah yang menolak untuk melakukan upacara bendera pada suatu Senin pagi. Dan bukan sesuatu yang mengherankan jika kelak mayoritas orang di negara ini percaya apa yang pernah ditulis Jorge Luis Borges dalam Brodie's Report: “I believe that in time we will have reached the point where we will deserve to be free of government.” Dunia sepakbola di negara ini pun kerusakan parah turut terjadi. Tentu saja kita mengerti itu. Bertahun-tahun lamanya kita disuguhkan pemandangan seorang terpidana korup duduk bersebelahan dengan presiden di tribun stadion yang paling terhormat. Bertahun-tahun lamanya para pemain tak dibayarkan gajinya oleh klub tempat mereka bernaung. Diego Mendieta, jika Anda masih ingat, bahkan sampai harus mati terlebih dahulu agar honor yang menjadi haknya diberikan. Indra Sjafri paham betul hal kebengisan tersebut. Sejak dipercaya menangani timnas junior sejak 2011 lalu, pria Minang ini pernah satu tahun melatih tanpa gaji sepeser pun dan tujuh bulan bekerja tanpa dikontrak. Kita tak pernah tahu apakah ia mengeluh karena hal tersebut. Kita tak pernah tahu juga apakah ia mengutuk para cecurut tengik yang memiliki andil atas hilangnya hak Indra selama 1 tahun 7 bulan tersebut. Satu yang kita tahu, Indra Sjafri tak pernah berhenti. Ia tak pernah berhenti dan terus menjelajah ke seantero pelosok negara ini untuk mencari bibit-bibit muda potensial, salah satu poin terpenting dalam dunia sepakbola, yang ironisnya tak pernah mampu dipahami oleh para elit Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia a.k.a PSSI. Ia terus melatih anak-anak itu. Ia terus melatih, menjelajah, melatih, menjelajah. Dan apa yang didapatnya? Ia dipecat dari kursi pelatih U-19 karena pertikaian murahan PSSI-KPSI beberapa bulan lalu dan digantikan manusia antah berantah bernama Luis Manuel Blanco. Syukur, Blanco yang tak pernah jelas curriculum vitae-nya itu justru menolak tawaran menukangi timnas U-19. Indra Sjafri pun kembali melatih. Tanpa digaji. Ya, tanpa menerima gaji. Terlepas dari apa dilakukan Indra Sjafri merupakan bentuk pencitraan atau tidak, saya tak terlalu peduli betul. Satu hal, bekerja tanpa dibayar adalah sebuah komitmen yang tak semua orang normal mau melakukannya. Dan Indra Sjafri pun memulai kerjanya. Babak kualifikasi Piala Asia U-16 adalah cobaan awal baginya. Ia langsung gagal, anak asuhnya tak dapat lolos ke putran final karena hanya mampu menyelesaikan turnamen di peringkat tiga klasemen. Akan tetapi, ia menolak memutus komitmennya. Kakinya terus menjejaki pelosok daerah, kepalanya terus mencari cara membentuk fondasi strategi paling pas untuk pasukannya. Perlahan tapi pasti, Indra Sjafri mulai memperlihatkan sentuhan magsinya. Di tahun 2012, ia sukses membawa timnas U-17 meraih gelar juara HKFA International Youth Football Invitation Tournament. Masih di ajang yang sama, pada bulan Februari lalu, Indra Sjafrie membawa pasukan U-19 nya menjadi juara. Dan keberhasilan Indra tak sampai di situ. Berturut-turut ia membawa anak asuhnya meraih gelar juara Piala AFF U-19 dan terakhir lolos ke putaran final Piala AFC setelah mengkoyak-koyak Korea Selatan dua malam lalu. Yang menarik dari Indra Sjafri adalah, dengan keadaan yang selama ini memojokannya, ia tak lantas menjadi seorang melankoli murung yang biasa kita lihat di televisi: menghamba pada belas kasihan, bermurung durja selaksa dunia telah melaknatnya sehebat mungkin. Justru sebaliknya, Indra Sjafri memperlihatkan perangai yang cenderung pongah, berapi-api, dan gemar berbicara blak-blakan. Ada kesan menantang dalam beberapa kalimat yang ia ucapkan. Pun demikian, saya percaya, melalui kepongahan yang tampak itu, Indra Sjafri bukanlah sedang menunjukkan sikap yang negatif. Ia hanya orang yang paham kualitas dirinya dengan sangat baik. Ia paham cara untuk bersilat lidah atau sekadar menaikturunkan tensi di saat yang tepat. Bukan sebuah keanehan, sebenarnya, sebab Indra Sjafri merupakan pria asli Minang. Dalam adat Minangkabau, kepandaian berkata-kata adalah salah satu atribut wajib yang harus dipelajari bagi setiap pria yang hendak merantau. Sebagai “bukti” argumen saya di atas tentang “kepongahan” sekaligus kepandaian Indra Sjafri dalam berkata-kata, saya mencari beberapa pernyatan yang sempat dilontarkannya di berbagai media online. Berikut saya kutipkan langsung tanpa editan sama sekali. “Malaysia bukan lawan Indonesia. Mereka sudah menjadi tim pecundang. Buktinya saat babak fase grup Piala AFF, kami seharusnya bisa mengubur mereka di Sidoarjo. Ada empat peluang yang seharusnya masuk ke gawang Malaysia. Mereka hanya dihinggapi Dewi Fortuna saja.” (Inilah.com, pasca kemenangan atas Vietnam di final AFF U-19, Rabu 25/09/2013.). "Selama ini cara pengelolaan salah, penataan salah. Tapi sekarang sudah ada arah menuju perbaikan. Kalau itu dilakukan, saya yakin itu 10 tahun lagi Indonesia nggak ada lawan. Pokoknya kalau scouting benar, pembinaan benar, main di lapangan juga benar, tinggal siul-siul kita.” (Beritasatu.com perihal keyakinannya terhadap perbaikan penataan sepakbola Indonesia, Rabu 25/09/2013). “Evan Dimas hebat di kelompok umur, tapi apakah hebat di kelompok umur lebih tinggi. Belum saatnya Evan atau pemain lain melompot di kelompok jauh berbeda.” (Suaramerdeka.com, jawabannya ketika menanggapi isu pemanggilan anak asuhnya ke timnas U-23 oleh Rahmad Darmawan, Kamis 26/09/2013). “Saya punya prinsip main, jangan cepat kehilangan bola. Dan jangan main bola-bola jauh. Benar saya terinspirasi dengan ‘tiki-taka’, tapi saya menamakan cara bermain kita sendiri. Bukan ‘tiki-taka’ atau yang lainnya.” (Suarapembaruan.com, tentang penolakan label ‘tiki-taka’ atas gaya bermain yang ia terapkan, Jumat 27/09/2013). "Kapan Korea Selatan juara dunia? Kan tidak pernah. Apabila perlu mereka sudah kalah sebelum bermain itu yang harus dibikin, jangan kita berada di posisi bawah terus. Kita itu lebih besar daripada Korea Selatan, itu yang harus kita kembangkan. Sampaikan ke Korea, siap–siap tanggal 12 Oktober kita kalahkan.” (Dewibola.com, jelang pertandingan kontra Korsel, Minggu 06/10/2013). "Kami tidak akan melakukan counter attack, sebab bagi kami kalah atau menang sama saja, jadi ya harus menang. Kami berada pada form bagus karena ini pertandingan ketiga dan kami berada pada puncak performa.” (Kompas.com, satu hari jelang pertandingan lawan Korsel, Jumat 11/10/2013). "Pemain-pemain ini dipilih dengan standar yang tinggi. Saya sudah bilang, ada empat kriteria yang ditetapkan tim pelatih saat menentukan para pemain. Keempat kriteria itu adalah skill, taktikal, fisik, dan mental. Semuanya harus baik. Jadi mau tertinggal 2-0 di babak pertama pun, sebelum peluit panjang berbunyi mereka harus selalu yakin menang. Mereka ini militan semua. Mereka tak mau diinjak-injak di negaranya sendiri. Kepada mereka, selamat menikmati kemenangan ini.”(Detik.com, pasca kemenangan Indonesia dari Korsel, Sabtu 12/10/2013 kemarin). “Tadi kita bukan hanya menang. Tadi kita permainkan Korea, kita kolongin mereka. Mulai dari sekarang, kita harus berpikir bahwa Indonesia raksasa Asia!” (Goal.com, masih di momen yang sama). "Banyak EO yang sudah menawarkan lawan, tapi saya tidak mau. Kalau mau, saya sudah ada jadwal silakan kalau ada EO yang mau mengakomodasi. Jangan menjual tim nasional dengan cara seperti itulah." (Detik.com tanggapannya atas beberapa event organizer yang menawari timnas pasca kemenangan atas Korsel, Minggu 13/10/2013). "Soal kontrak silahkan tanya ke PSSI saja. Belum ada pembicaraan. Saya tidak mau bernegosiasi dengan negara.” (Detik.com perihal kontrak kerja barunya yang masih belum juga diurus PSSI, Minggu 13/10/2013). Dari berbagai pernyataan yang ia lontarkan, secara pribadi saya menyukai komentarnya yang terakhir. Benar, buat apa berdialog dengan negara? Kemana negara ketika ia bersusah payah menelusuri rimba raya untuk mencari para pemuda pengolah bola nan handal? Kemana negara, PSSI, atau apalah namanya, ketika ia membutuhkan gaji dan kejelasan kontraknya? Nol. Kosong. Mereka tak pernah hadir. Negara hanya hadir ketika mereka berkelahi tanpa malu memperebutkan kursi empuk legitimasi tertinggi. Negara hanya hadir ketika mereka hendak memecat Indra Sjafri dan menggantikannya dengan pria dari ujung Amerika Latin sana yang namanya bak matador kacangan. Negara hanya hadir ketika para anak didik Indra Sjafri berhasil menjadi juara AFF U-19 dan lolos ke putaran final AFC, lalu bertingkah seolah-olah hasil kerja keras Indra adalah buah karya mereka juga. Wow! Dalam kajian ilmu sosial dan politik, seseorang yang menolak (kehadiran) negara sejatinya layak dimasukan ke dalam kategori ‘anarkis’. Sebab ‘anarkisme’, dalam pengertiannya yang paling sederhana, adalah paham yang menganggap tidak perlu atau menuntut keruntuhan sistem negara. Tentu saja, adalah sebuah guyonan yang tak lucu untuk melabeli Indra Sjafri sebagai seorang ‘anarkis’ hanya karena potongan pernyatannya tersebut. Lagi pula, apa manfaatnya melabeli atau mendefinisikan seseorang dengan ideologi tertentu? Sebagai seorang mantan tukang pos, biarlah Indra Sjafri terus menghadirkan kejutan di tengah kekosongan negara ini melalui “surat-surat” yang diantarnya, melalui kalimat-kalimat dan hasil kerjanya. Seperti yang pernah ditulis Nietzsche dalam salah satu bukunya yang kurang akrab di telinga, ‘Human, All Too Human’: “A letter is an unannounced visit, the postman the agent of rude surprises. One ought to reserve an hour a week for receiving letters and afterwards take a bath”. — bersama Arta Budi Iwan dan 3 lainnya.